Selasa, 26 Januari 2016

Kisah Tiga Kapal Pesiar : Olympic, Titanic, dan Britannic

Kisah Tiga Kapal Pesiar : Olympic, Titanic, dan Britannic

 

 http://historia.id/img/foto_berita/986Olympic_and_Titanic.jpg

 

WHITE Star Line, perusahaan pelayaran Inggris yang beroperasi sejak 1845, berambisi menjadi yang terbesar di Eropa. Untuk itu, ia memesan kapal pesiar yang cepat lagi mewah kepada perusahaan pembuat kapal Harland and Wolff di Belfast, Irlandia Utara. Ia ingin mengalahkan rivalnya, Cunard Line, yang membangun kapal pesiar berkecepatan tinggi seperti RMS Mauretania dan RMS Lusitania.
“Jika Cunard membangun yang besar, White Star akan membangun yang lebih besar; jika Cunard menawarkan kemewahan, White Star akan menawarkan kemewahan dalam skala yang belum pernah dilihat sebelumnya di Atlantik Utara,” tulis Daniel Allen Butler dalam The Age of Cunard: A Transatlantic History 1839-2003.
J. Bruce Ismay, presiden White Star, dan William J. Pirrie, direktur galangan kapal Harland and Wolff, memutuskan membangun tiga kapal: RMS Olympic pada 1908, RMS Titanic pada 1909, dan HMHS Britannic pada 1911. Ketiganya dirancang Thomas Andrews dan Alexander Carlisle.
Mengangkut 2.435 penumpang dari Southampton ke New York, Olympic berlayar perdana pada 14 Juni 1911. Dengan bobot 45.324 ton dan panjang 268,8 meter, Olympic menjadi kapal pesiar terbesar dan termewah di dunia. Namun, ia bertabrakan dengan kapal perang Inggris, HMS Hawke, pada 20 September 1911. Saat itu kapal dinakhodai Kapten Edward Smith, yang nantinya akan menjadi kapten kapal Titanic. Tak ada korban jiwa meski kapal rusak cukup berat. Namun reparasi Olympic membuat peluncuran Titanic tertunda beberapa bulan.
Titanic diperkenalkan pada 10 April 1912. Layaknya istana terapung, Titanic yang berbobot 46.328 ton dan panjang 269,1 meter adalah kapal pesiar termewah dan terbesar di dunia. Namun, pelayaran perdananya dari Southampton menuju New York dengan membawa 2.224 penumpang berakhir tragis. Ia menabrak gunung es pada 14 April 1912. Sekira 1.517 penumpang tewas, di antaranya nakhoda Edward Smith dan Thomas Andrews, perancang Titanic. J. Bruce Ismay selamat, namun reputasinya sebagai presiden White Star memudar. Media di Eropa dan Amerika mengabarkan bencana Titanic sebagai musibah kapal laut terburuk saat itu.
“Kisah bencana Titanic membuat takjub orang-orang bahkan masih menarik perhatian dibandingkan bencana lainnya di abad ke-20. Banyak buku ditulis. Juga ada beberapa film yang dibuat tentang bencana ini,” tulis Kathleen Fahey dalam Titanic.
Bencana Titanic membuka mata White Star. Olympic direparasi dan keamanannya diperkuat dengan penambahan sekoci penyelamat. Olympic kembali berlayar pada Maret 1913.
Britannic diluncurkan pada 26 Februari 1914 dengan panjang 275 meter dan bobot 48.158 ton. Namun, Perang Dunia I keburu pecah sebelum Britannic menjalani pelayaran komersialnya. Britannic lalu diubah jadi kapal rumahsakit untuk memenuhi kebutuhan perang. Britannic tak berumur panjang. Pada 21 November 1916, saat berlayar di laut Aegea untuk menjemput prajurit yang terluka, ia menabrak ranjau laut dan tenggelam; 30 dari 1.100 awak kapalnya tewas.
Salah satu yang selamat adalah Violet Jessop, seorang perawat. Antara nasib buruk dan keberuntungan, Jessop menjadi pelayan di Olympic, Titanic, dan Britannic. Dia selamat dari ketiga bencana tersebut.
Selepas Perang Dunia I, praktis hanya Olympic yang mampu bertahan. Olympic kembali memulai perjalanan komersialnya pada 1920, sampai akhirnya Depresi Besar tahun 1930 memukul perusahaan White Star.
White Star akhirnya merger dengan Cunard yang juga rugi besar setelah kapalnya, Lusitania, tenggelam saat Perang Dunia I. Merger disetujui pada 10 Mei 1934. Kapal pesiar Olympic, yang telah beroperasi selama 25 tahun, dipensiunkan.
Dibandingkan Titanic dan Britannic, karier Olympic lebih mentereng: 257 kali berlayar melintasi Atlantik membawa 430.000 penumpang. Olympic lalu dijual pada 1935, sebelum akhirnya dibongkar dan dihancurkan pada 1936 dan 1937.

Senin, 25 Januari 2016

Planet Godzila mirip dengan Bumi Ditemukan

Planet "Godzila" mirip Bumi Ditemukan

Ilmuwan menemukan planet kebumian yang wujudnya 2,3 kali lipat lebih besar. Penemuan Kepler 10c menggugat presepsi umum, bahwa planet batu yang bermassa terlalu besar cuma akan berubah menjadi raksasa gas.


  Astronom Amerika Serikat menemukan "Godzila" dari semua planet batu serupa bumi. Benda langit raksasa tersebut mengorbit sebuah bintang yang berjarak 560 tahun cahaya. Temuan ini mengubah presepsi umum mengenai pembentukan planet dan tata surya.
Bumi raksasa yang ditemukan oleh teleskop antariksa Kepler itu memiliki berat 17 kali lipat lebih besar ketimbang Bumi, tulis ilmuwan pada pertemuan Komunitas Astronomi Amerika Serikat di Boston. Penemuan baru itu lantas diberi nama Kepler 10c.
Planet tersebut memiliki rentang diameter sekitar 29.000 kilometer atau kira-kira 2,3 kali lipat lebih besar ketimbang Bumi. "Kami sangat terkejut ketika menyadari apa yang kami telah temukan," kata Astronom Xavier Dumusque dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics.

Asumsi Prematur soal Massa Planet Batu

Hingga kini ilmuwan tidak berasumsi planet batu bisa tumbuh sedemikian besar. Pasalnya gaya gravitasi yang muncul pada planet batu bermassa besar diyakini akan menyedot gas hidrogen dan mengubahnya menjadi raksasa gas, seperti Jupiter.

  • Neu entdeckter Planet Kepler-186f.

    Kepler 186f

    Dari semua eksoplanet yang pernah ditemukan oleh Kepler, planet bernomer 186f inilah yang paling menjanjikan. Selain ukurannya serupa Bumi dan memiliki jarak orbit yang relatif aman, Kepler 186f juga diyakini sebagai planet batuan, artinya ia sebagian besar terdiri dari silikat dan besi. Perbedaan terbesar dengan bumi adalah bintang induknya yang jauh lebih redup.
  •  

     


  • Zeichnung des Planeten Kepler 22b

    Kepler 22b

    Planet yang berjarak 600 tahun cahaya dari bumi ini terletak di zona layak huni. Kepler menemukan benda langit ini cuma tiga hari setelah mulai berfungsi. Ilmuwan memperkirakan, Kepler 22b adalah planet yang permukaannya sepenuhnya ditutupi air, atau juga disebut sebagai planet samudera. Kepler 22b memiliki ukuran 2,4 kali lipat lebih besar ketimbang bumi.

  • Computerzeichnung des Planeten Kepler-62e

    Kepler 62

    Dari sekian banyak sistem tata surya asing yang ditemukan teleskop antariksa Kepler. Bintang bernomer 62 adalah yang paling menjanjikan. Planet terluarnya 62e dan 62f mengorbit di zona layak huni. Ilmuwan yakin kedua exoplanet memiliki kandungan air yang tinggi.

  • Symbolbild - Sternsystem Kepler 62f

    Kepler 62f

    Serupa dengan Kepler 22b, planet ini juga diduga mengandung jumlah air dalam cukup besar dan mengorbit bintang induknya di zona layak huni. Kepler 62 berada di rasi bintang Lyra dan terletak 1200 tahun cahaya dari bumi. Dibandingkan bumi, Kepler 62f berukuran 1,4 kali lipat lebih besar.

  • Symbolbild - Sternsystem Kepler 62e

    Kepler 62e

    Sebelum kemunculan kepler 186f, planet ini dianggap sebagai benda langit yang paling menyerupai bumi. Kepler 62e ditemukan setelah mengukur kecepatan orbitnya. Selain berada di zona layak huni, Kapler 62e juga memiliki ukuran yang nyaris sama dengan bumi. Serupa dengan exoplanet mirip planet bumi yang sudah ditemukan, Kepler 62e menurut ilmuwan juga merupakan planet samudera.

  • Symbolbild - Sternsystem Kepler 69c

    Kepler 69c

    Exoplanet yang berukuran 70% lebih besar ketimbang bumi ini berada di rasi bintang Cygnus, sekitar 2700 tahun cahaya dari bumi. Karena ukurannya, Kepler 69 mendapat status bumi super. Awalnya ilmuwan mengatakan planet ini mengitari bintang induknya dari jarak aman. Namun setelah ditelisik lebih lanjut, Kepler 69c mengorbit bintangnya di batas terdalam zona layak huni, menyerupai planet Venus.

  • Weltraumteleskop - Kepler

    Pemburu Kehidupan di Luar Angkasa

    Selama empat tahun berdinas (2009-2013), teleskop antariksa Kepler telah menjaring lusinan planet yang serupa bumi. Teleskop yang dibaptis dengan nama astronom Jerman, Johannes Kepler itu membidik benda langit yang bisa menampung kehidupan. Selain jarak dari bintang induk, susunan atmosfer, ukuran planet juga menentukan karena berdampak pada gaya gravitasinya.
    Misi Kepler milik Nasa yang bertugas memburu kehidupan asing di antariksa cuma bisa menemukan dan mengklasifikasikan planet melalui jumlah transit di depan bintang induknya. Betapapun canggihnya, teleskop luar angkasa itu tidak bisa mengungkap apakah sebuah planet terbuat dari batuan atau gas.
Apa yang mengucilkan Kepler 10c dari kategori Bumi Super dan mini Neptun adalah temuan teleskop khusus di Kepulauan Canaria yang mampu mengukur massanya. "Kepler 10c tidak kehilangan atmosfernya. Jadi ia punya massa yang cukup untuk mempertahankan keutuhan atmosfernya," kata Dumusque.

Terbentuk 11 Juta Tahun Silam

Karena Kepler 10c lebih padat dari yang diduga sebelumnya, planet itu akan mendapat kategori baru. Sementara planet-planet serupa bumi lain akan dikategorikan berdasarkan karakter Kepler 10c.

Kendati begitu Kepler 10c diyakini tidak dapat menampung kehidupan. Ia memutari bintang induknya setiap 45 hari. Artinya planet raksasa tersebut berjarak terlalu dekat dan sebab itu memiliki suhu yang terlalu panas.

Bintang Kepler 10 menaungi beberapa planet neraka. Selain 10c, bintang yang terbentuk 3 juta tahun setelah Dentuman Dahsyat itu juga dikelilingi Kepler 10b, planet berlumur lava yang berputar cepat dan cuma butuh waktu 20 jam untuk mengitari bintang induknya.

"Menemukan Kepler 10c berarti bahwa planet batu bisa terbentuk lebih dini dari yang kami kira. Dan jika anda bisa membat batu, anda bisa menampung kehidupan," kata Sasselov.
Sumber :  Clik Here!!!

Cara Memasang atau Memasukkan Lagu di Blog dengan Pilihan Sendiri

Cara Memasang atau Memasukkan Lagu di Blog dengan Pilihan Sendiri

 Memasang dan memasukan lagu yang diinginkan ke blog merupakan hal yang berguna bagi kita yang ingin menghias blog dan menambahkan fitur menarik sehingga dapat membuat pengunjung merasa nyaman dan senang, dan dengan fitur lagu yang telah kita pasang atau masukan pastinya akan membuat para pengunjung kita betah berlama- lama menjelajahi blog kita dengan diiringi musik atau lagu yang bagus terutama untuk blog yang memiliki kategori dengan pengunjung yang berpotensi senang mendengarkan lagu.

 Hasil dari cara memasang atau memasukan lagu atau musik ini akan berbentuk seperti widget yang kita pasang di blog pada umumnya dan dengan fitur untuk memainkan musik yang terdapat dalam daftar putar yang telah kita pilih atau masukan terdahulu, jadi kita dapat menentukan lagu mana yang akan pengunjung gemari atau dapat juga kita pilih sesuai kesukaan kita.

 Cara memasang lagu atau musik kali ini akan kita lakukan melalui tool gratis situs/ web scmplayer, dimana terdapat banyak pilihan dan pengaturan yang dapat kita sesuaikan seperti keinginan kita seperti mengatur warna, fitur seperti auto reply serta memilih lagu yang kita inginkan yang dapat kita pilih melalui soundcloud.com.
Cara memasang atau memasukan widget lagu ke blog
1. Kunjungi situs scmplayer.net
Widget Lagu/ Musik mp3

2. Akan muncul tampilan seperti dibawah ini dan di menu “Choose Skin” anda dapat memilih warna background yang anda inginkan dan lanjut dengan kllik “Edit Playlist”
3. Siapkan lagu yang anda inginkan, saya sarankan cari di soundcloud.com selanjutnya masukan judulnya kedalam kolom “song title” dan URL lagu dari soundcloud.com tadi kedalam “Song URL” kemudian jika telah selesai klik “Next”

Memasukan Lagu ke Blog
4. Anda akan masuk ke menu “Setup Wizard” dan silahkan atur sesuai keinginan anda


Pengaturan Lagu Blog
Keterangan Pengaturan :

  • Auto play untuk memutar lagu secara otomatis
  • Shuffle Playback untuk memutar lagu dalam daftar anda secara acak
  • Default Volume untuk mengatur volume suara standar yang anda inginkan
  • Repeat Mode untuk mengatur pengulangan lagu
  • Placement of Player Bar untuk mengatur letak pemutar musik yang ingin kita pasang di blog
  • Show Playlist by Default untuk menampilkan pemutar secara default yaitu di sebelah kanan blog

5. Klik done untuk memperoleh kode HTML sesuai pengaturan yang kita lakukan


HTML widget Lagu untuk Blog
6. Copy kode seperti gambar diatas dan letakan didalam HTML template anda dengan cara Masuk ke blogger – Klik Template  - Edit HTML dan cari kode <body> atau <body (gunakan CTRL+F untuk mempermudah) setelah ketemu letakkan kode yang anda copy tadi tepat dibawah kode  <body>
7. Simpan template dan lihat hasilnya.

Dengan selesai melakukan cara memasang atau memasukkan lagu atau musik di Blog dengan pilihan sendiri ini akan menjadi kesenangan tersendiri bagi kita melihat penampilan dan fitur blog yang sesuai keinginan kita, sehingga diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan hiburan bagi pengunjung blog kita.

Semoga bermanfaat yaa guys..

Sabtu, 23 Januari 2016

Legenda Edward Blackbeard Teach

Legenda Bajak Laut BLACKBEARD

 

Dia di juluki BLACKBEARD (Si JenggotHitam).
Adalah Edward Teach atau Edward Thatch (c. 1680 - 22 November, 1718).
Dalam kisahnya seorang kapten kapal bajak laut yang menguasai Laut Karibia dan barat Atlantik selama awal abad ke-18.Edear Teach hanya membutuhkan 2 tahun untuk dapat masuk dalam catatan sejarah.BLACKBEARD dan awaknya sangat ditakuti pada zaman Keemasan dari Pembajakan.Kapalnya yang terkenal adalah Queen Anne's Revenge.

Menjadi pelaut perompak,dan kaya dari hasil rampasan bukan tujuan utama.BLACKBEARD,dan semua awak kapalnya memiliki visi yang sama.Yaitu dapat dikenang sepanjang masa dan masuk dalam sejarah dunia.Sebagaimana sang kapten mengingatkan semua awaknya:

"Kita ini hanyalah orang buta yang menuntun orang buta yang bodoh
".

  ""Mungkin saya akan kaya raya,tapi itu bukan tujuan.Saya hanya bercita-cita masuk dalam sejarah"."Inggris bisa saja melenyapkan kami dari muka dunia,tapi tidak dengan apa yang akan kami lakukan".

 

BLACKBEARD adalah satu-satunya bajak laut yang mengukir kejahatan hanya untuk dapat masuk dalam sejarah dunia,Ia memiliki postur tubuh tinggi besar dengan jenggot hitam berjalin panjang.Bajunya banyak menempel pedang,pisau,dan pistol.Ia dikenal demokratis dalam memimpin semua awak kapalnya,cerdik pada setiap aksi perampokan,dan licik dalam menjalin kerjasama pada pemerintahan.
Gubernur Alexander Spotswood dari Virginia menyewa dua kapal-kapal kecil yang dipimpin oleh Letnan Robert Maynard untuk memburu dan menghancurkan BLACKBEARD dengan bayaran 100 pound. Hingga di sebuah teluk kecil di bagian dalam Ocracoke Island terjadi pertempuran sengit.

Ketika itu BLACKBEARD tidak lari dari kejaran dua kapal yang dipimpin Letnan Maynard.BLACKBEARD justru mengadu perlawanan dengan mendekati kedua kapal Maynard yang terjepit karang kemudian menyerangnya.
Maynard yang tak kalah cerdik memerintahkan semua pasukannya untuk bersembunyi di dek kapal,ketika BLACKBEARD dan awak kapalnya lengah,dengan cepat pasukan Maynard menyulut keluar dari bawah dek,dan pertempuran terjadi.

Seorang pasukan Maynard berhasil membunuh BLACKBEARD dengan menghunuskan pedangnya,BLACKBEARD tumbang dipelukan Maynard sembari berbisik :


"Selamat !,anda masuk dalam catatan sejarah bersama saya".

Di ceritakan bahwa BLACKBEARD mendapati 20 luka pedang,dan 5 tembakan peluru di tubuhnya sebelum ia tewas.Letan Maynard menggantung kepala BLACKBEARD sebagai bukti untuk mendapatkan upah.Kru kapal Letnan Robert Meynard juga menceritakan jika tubuh
BLACKBEARD tanpa kepala berenang 7 kali mengelilingi kapalnya hingga kemudian jasadnya tenggelam.
Sungguh menakutkan meski sebagian orang tidak mempercayainya,
namun cerita itu telah membuktikan bahwa BLACKBEARD adalah LEGENDA BAJAKLAUT yang paling ditakuti sepanjang masa,dan berhasil masuk dalam sejarah dunia.


The Queen Anne's Revenge

Queen Anne's Revenge

 
1736
History
Kingdom of Great BritainUnited Kingdom
Name: HMS Concord
Launched: 1710
Captured: by France in 1711
History
Kingdom of FranceFrance
Name: La Concorde de Nantes
Captured: By Benjamin Hornigold in 1717, placed under the command of Blackbeard
History
Blackbeard's flagPirates
Name: Queen Anne's Revenge
Fate: Ran aground in 1718 near Beaufort Inlet, North Carolina
General characteristics
Class & type: Frigate
Tons burthen: 300 bm
Length: 31.4 m (103 ft)
Beam: 7.1 m (24.6 ft)
Complement: 125
Armament: 40 cannon
Queen Anne's Revenge
U.S. National Register of Historic Places
Nearest city Atlantic Beach, North Carolina
Area less than one acre
Built 1710

 
Queen Anne's Revenge was a frigate, most famously used as a flagship by the pirate Blackbeard (Edward Teach). She had been launched by the Royal Navy in 1710, and captured by France in 1711. She was used as a slave ship by the French, and was captured by pirates in 1717. Blackbeard used the ship for less than a year, but captured numerous prizes using her.
In 1718 Blackbeard ran the ship aground at Beaufort Inlet, North Carolina, in the present-day Carteret County. Her crew and supplies were transferred to smaller ships. In 1996 a private firm discovered the remains of a vessel likely to be Queen Anne's Revenge, which has been added to the US National Register of Historic Places.

History

 

The 300-ton vessel, originally named Concord, was a frigate built in England in 1710. She was captured by the French one year later. The ship was modified to hold more cargo, including slaves, and renamed La Concorde de Nantes. Sailing as a slave ship, she was captured by the pirate Captain Benjamin Hornigold on November 28, 1717, near the island of Martinique. Hornigold turned her over to one of his men, Edward Teach (later known as Blackbeard), and made him her captain.
Blackbeard made La Concorde into his flagship, adding cannon and renaming her Queen Anne's Revenge. The name may come from the War of the Spanish Succession, known in the Americas as Queen Anne's War, in which Blackbeard had served in the Royal Navy, or possibly from sympathy for Queen Anne, the last Stuart monarch. Blackbeard sailed this ship from the west coast of Africa to the Caribbean, attacking British, Dutch, and Portuguese merchant ships along the way.
Shortly after blockading Charleston harbor in May 1718, and refusing to accept the Governor's offer of a pardon, Blackbeard ran Queen Anne's Revenge aground while entering Beaufort Inlet. He disbanded his flotilla and escaped by transferring supplies onto a smaller ship, Adventure. He stranded several crew members on a small island nearby, where they were later rescued by Captain Stede Bonnet. Some suggest Blackbeard deliberately grounded the ship as an excuse to disperse the crew. Shortly afterward, Blackbeard did surrender and accepted a royal pardon for himself and his remaining crewmen from Governor Charles Eden at Bath, North Carolina. However, he eventually returned to piracy and was killed in combat in November 1718.

Discovery and archaeological excavation of shipwreck

Intersal Inc., a private research firm, discovered the wreck believed to be Queen Anne’s Revenge (QAR) on November 21, 1996. It was located by Intersal's director of operations, Mike Daniel, who used historical research provided by Intersal's president, Phil Masters and maritime archaeologist David Moore. The shipwreck lies in 28 feet (8.5m) of water about one mile (1.6 km) offshore of Fort Macon State Park (34°41′44″N 76°41′20″W), Atlantic Beach, North Carolina. Thirty-one cannon have been identified to date and more than 250,000 artifacts have been recovered. The cannon are of different origins such as; Swedish, English and possibly French, and of different sizes as would be expected with a colonial pirate crew.
Recognizing the significance of the Queen Anne's Revenge, the North Carolina Department of Natural and Cultural Resources (NCDNCR), Intersal, and Maritime Research Institute (“MRI”) entered into a memorandum of agreement in 1998. Intersal agreed to forego entitlement to any coins and precious metals recovered from QAR in order that all QAR artifacts remain as one intact collection, and in order for NCDCR to determine the ultimate disposition of the artifacts. In return, Intersal was granted media, replica, and other rights related to Blackbeard’s Queen Anne's Revenge Shipwreck Project; MRI was granted joint QAR artifact touring rights with NCDCR. NCDCR, Intersal, and Rick Allen of Nautilus Productions signed a new collaborative agreement on October 24, 2013 connected to QAR commercial, replica, and promotional opportunities for the benefit of QAR. The State of North Carolina owns QAR since the wreck lies in state waters (within the 3 mile limit).
For one week in 2000 and 2001, live underwater video of the project was webcast to the Internet as a part of the QAR DiveLive educational program that reached thousands of children around the world. Created and co-produced by Nautilus Productions and Marine Grafics, this project enabled students to talk to scientists and learn about methods and technologies utilized by the underwater archaeology team.
In November 2006 and 2007, more artifacts were discovered at the site and brought to the surface. The additional artifacts appear to support the claim that the wreck is that of Queen Anne's Revenge. Among current evidence to support this theory is that the cannon were found loaded. In addition, there were more cannon than would be expected for a ship of this size, and the cannon were of different makes. Depth markings on the part of the stern that was recovered point to it having been made according to the French foot measurements.
By the end of 2007, approximately 1/3 of the wreck was fully excavated. Artifacts are undergoing conservation. The North Carolina Department of Natural and Cultural Resources set up the website Queen Anne's Revenge to build on intense public interest in the finds. Artifacts recovered in 2008 include loose ceramic and pewter fragments, lead strainer fragments, a nesting weight, cannon apron, ballast stones, a sword guard and a coin.
Goals during the 2010 field season included; staging of one of the ship’s largest main deck cannons from to the large artifact holding area on site, taking corrosion readings from anchors and cannon undergoing in situ corrosion treatment, attaching aluminum-alloy anodes to the remaining anchors and cannon so as to begin their in situ corrosion treatment and continuing site excavations.
In 2011, the 1.4-tonne (3,100 lb) anchor from the ship was brought to the surface along with a range of makeshift weaponry including langrage or canister shot.
On August 29, 2011, the National Geographic Society reported that the State of North Carolina had confirmed the shipwreck as the Queen Anne's Revenge, reversing a conclusion previously maintained because of a lack of conclusive evidence.
On June 21, 2013, the National Geographic Society reported recovery of cannon from Queen Anne's Revenge.
On October 28, 2013, archaeologists recovered five more cannon from the wreck. Three of these guns have been identified as 6-pounder iron cannon manufactured at Ehrendals works in Södermanland, Sweden, in 1713. Thomas Roth, the Head of Sweden's Armament Museum Research Department, derived the origin of the iron cannon by a mark on the cannon tubes.
The 23rd of 31 cannon identified on the Queen Anne's Revenge wreck site was recovered on Friday, October 24, 2014. The newest gun is approximately 56" long, weighs over 300 lbs and may be a sister to a Swedish gun that was previously recovered. Nine cannonballs, bar shot halves, an iron bolt and a grenado were also recovered during the 2014 field season.
On August 18, 2015 the State of North Carolina passed a new law laying claim to "all photographs, video recordings, or other documentary materials of a derelict vessel or shipwreck or its contents, relics, artifacts, or historic materials in the custody of any agency of North Carolina government or its subdivisions." On October 30, 2015, after seven weeks of work, a small 50" long cannon weighing between 150 and 200 pounds was recovered during the fall field season.

From Wikipedia, the free encyclopedia.

Selasa, 19 Januari 2016

Assassin's Creed IV: Black Flag

  1. Assassin's Creed IV: Black Flag

    Assassin's Creed IV: Black Flag
    Assassin's Creed IV - Black Flag cover.jpg
























    Assassin's Creed IV: Black Flag is a 2013 action-adventure video game developed by Ubisoft Montreal and published by Ubisoft. It is the sixth major installment in the Assassin's Creed series. Its historical timeframe precedes that of Assassin's Creed III (2012), though its modern-day sequences succeed III '​s own. Black Flag was first released on the PlayStation 3, Xbox 360, and Nintendo Wii U in October 2013 and a month later on the PlayStation 4, Microsoft Windows, and Xbox One. The plot is set in a fictional history of real world events and follows the centuries-old struggle between the Assassins, who fight for peace with free will, and the Templars, who desire peace through control. The framing story is set in the 21st century and features series protagonist Desmond Miles who, with the aid of a machine known as the Animus, relives the memories of his ancestors to find a way to avert the 2012 apocalypse. The main story is set in the 18th century Caribbean during the Golden Age of Piracy, and follows notorious pirate Edward Kenway, grandfather and father of Assassin's Creed III protagonists RatonhnhakĂ©:ton and Haytham Kenway respectively, who stumble upon the Assassin/Templar conflict. Unlike previous games, gameplay elements focus more on ship-based exploration in the open world map, while also retaining the series' third-person land-based exploration, melee combat, and stealth system. Multiplayer also returns, albeit with only land-based modes and settings. The game spans across the Caribbean with the three main cities of Havana, Nassau and Kingston along with numerous islands, sunken ships, and forts. Players have the option to harpoon large sea animals and hunt land animals. For the first time in the series, naval exploration is a major part of an Assassin's Creed game, where Edward Kenway captains the Jackdaw, a brig he captures from a Spanish fleet.

     


    Assassin's Creed IV: Black Flag was positively received upon release, and was one of the best selling games of 2013. It has sold more than 11 million copies to date. Critics praised the massive open world gameplay, numerous side-quests, graphics and improved naval combat. The light-hearted pirate theme was well received by critics. The modern day story however, received a slightly more mixed response, while criticism fell on aspects of the historical story missions which were considered repetitive. The game received several awards and nominations, including winning the Spike VGX 2013 award for Best Action Adventure Game. It was followed by Assassin's Creed Unity and Assassin's Creed Rogue, set during the French Revolution and Seven Years' War respectively, with both released in November 2014.

    Gameplay

     

    The game features three main cities; Havana, Kingston, and Nassau, which reside under Spanish, British, and pirate influence, respectively. The game also features 50 other individual locations—including atolls, sea forts, Mayan ruins, sugar plantations and underwater shipwrecks—to explore, with a 60/40 balance between land and naval exploration. Assassin's Creed IV has a more open world feel, with missions similar to those found in Assassin's Creed, as well as fewer restrictions for the player. The world opens up sooner in the game, as opposed to Assassin's Creed III, which had very scripted missions and did not give players freedom to explore until the game was well into its first act. The player will encounter jungles, forts, ruins, and small villages and the world is built to allow players much more freedom, such as allowing players to engage, board, and capture passing ships and swimming to nearby beaches in a seamless fashion. In addition, the hunting system has been retained from Assassin's Creed III, allowing the player to hunt on land, and fish in the water, with resources gathered used to upgrade equipment.
    A new aspect in the game is the Jackdaw, the ship that the player captains. The Jackdaw is upgradeable throughout the game, and is easily accessible to the player when needed. In addition, a new underwater component has been added. The player has access to a spyglass, allowing the examination of distant ships, along with their cargo and strength. It can also help determine if an island still has animals to hunt, treasures to find, high points to reach for synchronization or additional side-quests to complete, such as assassinations and naval contracts. An updated form of the recruit system introduced in Assassin's Creed: Brotherhood has returned, allowing Edward to recruit crew members. While Kenway's crew will remain loyal to him, can be promoted to captain acquired ships, and are needed to assist in boarding enemy vessels, they cannot assist in combat or perform long-range assassinations, as in previous games. Ubisoft removed this aspect of the brotherhood system, believing it allowed players to bypass tense and challenging scenarios too easily.
    In the present day, at the offices of Abstergo Entertainment—a subsidiary of Abstergo Industries—in Montreal, Quebec, players engage in modern-day pirating through the exploration of Abstergo's offices, eavesdropping and hacking, all without combat. As well, various "hacking" games, similar to previous cluster and glyph puzzles, are present, that uncover secrets about Abstergo.
    Multiplayer also returns, with new settings and game modes, though it is only land-based.

    Synopsis

    Characters

    The main character of the game is Edward Kenway (Matt Ryan), a Welsh privateer-turned-pirate and eventual member of the Assassin Order. Edward is the father of Haytham Kenway, and grandfather of Ratonhnhaké:ton (Connor), the two playable characters of Assassin's Creed III. Real-life individuals that are encountered include the pirates Edward "Blackbeard" Thatch (Mark Bonnar), Benjamin Hornigold, Mary Read, Stede Bonnet Anne Bonny, Calico Jack, Adewale and Charles Vane (Ralph Ineson).

    Setting

    As is the case in previous games in the Assassin's Creed series, the story is divided into two intertwined halves, with one in the present day, one in a historical setting, and the events of each influencing the other. Although the present-day story had previously established that an Animus was required to view one's ancestors memories, the ending of Assassin's Creed III reveals that Abstergo can now view a host's genetic memories simply by sequencing the host's DNA. As such, the player character is hired by Abstergo Entertainment to investigate a pivotal character in Desmond's ancestry, the Assassin Edward Kenway. A notorious pirate and privateer operating during the Golden Age of Piracy, Kenway's story is set in the Caribbean, and mixes open-ended ship-based exploration with combat and land-based adventures in Cuba and Jamaica, and on a number of Caribbean islands, parts of southern Florida and eastern Mexico.

    Plot

    Samples taken from Desmond Miles' body in the moments after his death have enabled Abstergo Industries to continue to explore his genetic memories using the Animus' newfound cloud computing abilities. The unnamed player character is hired by Abstergo Entertainment, from their MontrĂ©al headquarters, to sift through the memories of Edward Kenway, an eighteenth-century pirate, the father of Haytham Kenway and the grandfather of RatonhnhakĂ©:ton. Ostensibly, this is to gather material for an Animus-powered interactive feature film, but in reality, Abstergo—the Templars of the present time—are searching for a First Civilization structure known as the Observatory, and are using the memories of Edward Kenway to find it.
    As Kenway, the player must unravel a conspiracy between high-ranking Templars within the British and Spanish empires who, under the guise of cleaning up piracy in the Caribbean, have used their positions to locate the Sage—later identified as Bartholomew Roberts—who is the only man that can lead them to the Observatory, a First Civilization device which can monitor anyone anywhere in the world when provided a blood sample, which they intend to use to spy on and blackmail world leaders. Kenway becomes an unwitting player in their plot when he kills a rogue Assassin, Duncan Walpole. Seeing an opportunity for profit, Kenway takes Walpole's place at a meeting of Templars in Havana, where he meets Woodes Rogers as well as Cuban Governor, and Templar Grandmaster, Laureano Torres. His recklessness endangers the entire Assassins' Order, prompting him to pursue the Sage and the conspirators from the YucatĂ¡n Peninsula to Jamaica, eventually catching Roberts on the island of PrĂ­ncipe off the African coast.
    Meanwhile, a band of notorious pirates-including Edward "Blackbeard" Thatch, Benjamin Hornigold, and Charles Vane, among others-dream of a pirate utopia where man is free to live beyond the reach of kings and rulers. With Kenway's help, they seize control of Nassau and establish a pirate republic. However, poor governance, a lack of an economy and an outbreak of disease bring the pirate state perilously close to collapse, with the founders divided on the best way forward. Kenway attempts to resolve the dispute, but is too late to stop the Templars from exploiting the situation for their own ends.
    Eventually, Kenway and Roberts uncover the location of the Observatory and retrieve the artifact powering it, but Kenway is betrayed by Roberts at the last moment. After a brief stint in prison for the crimes of piracy, Edward escapes with the aid of Ah Tabai, the Assassin Mentor, and elects to join their Order. Chasing down Roberts and the Templar conspirators, Kenway retrieves the artifact and returns it to the Observatory, sealing it away for good. He is left facing an uncertain future with his newfound convictions until he receives a letter informing him of the passing of his wife and the imminent arrival of his hitherto unknown daughter, Jennifer Scott. Kenway travels back to England, promising Ah Tabai that he will one day return to continue the fight against the Templars. Some years later, Kenway, Jennifer (using her mother's surname in her memory) and Kenway's young son Haytham are about to watch a play in an English theatre.
    In the present day, the player is contacted by John, Abstergo Entertainment's information technology manager. John convinces the player that their employers know more than they are telling, and encourages them to investigate in more detail. He convinces the player to hack several Animus terminals and security cameras, and then has them deliver the information taken to Shaun Hastings and Rebecca Crane, who are working undercover to infiltrate Abstergo. When the facility is locked down after the hackings are discovered, John arranges for the player to access the Animus' core, at which point Juno materializes into an incorporeal form. She reveals that although it was necessary to open her temple to avert disaster, the world was not ready for her, and she is unable to affect it or possess the player character as her agents intended. John is unmasked as the reincarnated form of the Sage and attempts to murder the player to cover up the failed attempt at resurrecting Juno, but is killed by Abstergo's security before he can do so, thus implicating him as the one responsible for the hacks. As Roberts, the Sage admits to Kenway that he owes no allegiance to the Assassins or the Templars and instead uses whoever he thinks represents his best chance of achieving his ends. With the Sage dead, the player is contacted by the Assassins as they continue their infiltration of Abstergo, but neither side is able to explain the Sage's presence or identify his followers, the Instruments of the First Will.

    Freedom Cry

    The Freedom Cry downloadable content  is set twenty years after the events of Black Flag and follows AdĂ©walĂ© in his mission as an Assassin.
    While attempting to intercept Templar activities in the West Indies Sea, Adéwalé is shipwrecked off the coast of Haiti. Making his way into Port-au-Prince, he establishes that the Templars are working with Bastienne Josèphe, the proprietor of a local brothel and a sympathiser to the Maroons, a faction of freedom fighters made up of liberated slaves led by Augustin Dieufort. Despite his obligations to the Brotherhood of Assassins, Adéwalé becomes sympathetic to their cause, and joins with the Maroons in hijacking a vessel, Experto Crede, in order to interrupt the slave trade.
    Whilst working for Bastienne, Adéwalé begins to uncover a conspiracy within the French provincial government ruling Port-au-Prince. The local governor, Pierre de Fayet, plans a clandestine scientific expedition to measure the curvature of the earth and gather geographical data, which they intend to sell to the highest bidder with the promise of naval superiority. Adéwalé successfully sabotages the expedition by substituting the illiterate slaves being used by the expedition for literate members of the Maroons.
    Tensions begin to arise within the Maroons when Adéwalé plots further raids against the slave trade. Bastienne objects, as de Fayet will only punish those trapped in slavery further as punishment. Adéwalé ignores her, but is horrified when he witnesses a frigate fire on an unarmed slave ship to prevent the slaves from joining the Maroons. Adéwalé boards the slave ship and manages to save a few slaves from drowning before the ship capsized with the rest. He plans retribution, but Bastienne cautions that taking revenge will weaken the Maroons' cause; if Adéwalé is to kill de Fayet, then he should do so acting as an agent of justice. After assaulting the Governor's Mansion, pursuing him through the city and fighting off a local garrison, Adéwalé finally corners and kills de Fayet, who claims that slaves are incapable of self-governance and turn to armed uprising at the slightest provocation. Adéwalé points out that none of the slaves or overseers came to the his aid, and instead let him die. After killing de Fayet, Adéwalé returns to Bastienne, promising to leave Port-au-Prince for good, but pledging to use his newfound convictions to aid people who are oppressed rather than the cause of their would-be liberators.
  2. TheTroveMisteryMap

    Development

    In early February 2013, during its quarterly financial call to investors, Ubisoft CEO Yves Guillemot confirmed that the next Assassin's Creed game, due for release some time before April 2014, would feature a new hero, time period, and development team. On February 28, 2013, Ubisoft posted their first promotional picture and cover for their next Assassin's Creed game, following leaked marketing material days before. It announced the title of the game as Assassin's Creed IV: Black Flag and featured an unnamed character holding a flintlock and a sword with a black flag in the back ground containing the Assassin's symbol with a skull. A reported glitch on the official Assassin's Creed IV website suggested the game will release on next-gen consoles and October 29 as the release date, which was confirmed by the first trailer for the game, released on March 4, 2013 (originally leaked on March 2, 2013, but was quickly pulled by Ubisoft).
    Assassin's Creed IV: Black Flag was announced with a cinematic trailer on March 4, 2013. Development began in mid-2011 at Ubisoft Montreal by a separate team from the one on Assassin's Creed III, with additional work done by Ubisoft studios in Annecy, Bucharest, Kyiv, Montpellier, Singapore and Sofia.
    Lead content manager Carsten Myhill stressed away the sentiment that the sequel should have been a spin-off in the same vein as Assassin's Creed: Brotherhood or Assassin's Creed: Revelations, given the ostensible similarities with Assassin's Creed III. He stated "The whole feeling of the game is completely fresh and new. It will feel very different from Assassin's Creed III. I think it completely warrants the Assassin's Creed IV moniker, not only with the new name and setting, but the attitude and the tone of the experience." Assassin's Creed IV is the first main series numbered title to carry a subtitle, a decision which Myhill says was made to clearly distinguish the pirate theme from the rest of the franchise.
    By utilizing the AnvilNext engine, the development team is able to work with one engine for both the next-gen and current-gen versions of the game, as the AnvilNext engine was designed with next-gen capabilities in mind, while still working on current-gen systems. In addition, each system will have their own intricacies and feature sets, with support for the different controllers and utilizing features specific to each console. The PC version supports Nvidia's TXAA.

    Downloadable content

    On October 8, 2013, Ubisoft announced that a Season Pass will be available for purchase at the launch of the game on PlayStation 3, PlayStation 4, Xbox 360, Xbox One and PC, and will include the Freedom Cry single-player missions, Kraken Ship pack featuring elements to personalize the Jackdaw, as well as additional single-player and multiplayer elements.
    Freedom Cry sees the player take on the role of Adéwalé, a freed slave from Trinidad who became Edward Kenway's Quartermaster, and later a member of the Assassin Order. The story mode takes place 15 years after the events of Assassin's Creed IV: Black Flag where Adéwalé has become a trained assassin and finds himself shipwrecked in Saint-Domingue, where he comes face-to-face with some of the most brutal slavery in the West Indies. The DLC is written by Jill Murray, who wrote Liberation and the Aveline content for Black Flag. In February 2014, it was announced that Freedom Cry would be released as a standalone title on the PlayStation 4 and PlayStation 3 on February 18, 2014 for North America and February 19, 2014 for Europe. It was released for the PC on February 25, 2014.
    Blackbeard's Wrath allows the player to play any one of three new characters in Black Flag's multiplayer mode. These characters include Blackbeard, The Jaguar and The Orchid. This DLC is free with the Season Pass.
    Guild of Rogues adds three new characters to the multiplayer mode. These characters are The Shaman, The Siren and The Stowaway. It was not released for the Wii U.
    The PS3 and PS4 releases both contain an exclusive DLC, "Aveline". As an exception it is available on PC in the Uplay Digital Deluxe Edition only.

    Notes

      The character is referred to as "Thatch" in this game, rather than the more common "Teach". "Thatch" is one of the many variations of Blackbeard's name known to have existed. Please see Blackbeard: Early life for more information.
  3.  The player is able to find collectible items scattered throughout both past and present-day game worlds. These items establish the Sage's backstory and are used as a means of communicating with other unidentified agents of the First Civilization.
          From Wikipedia, the free encyclopedia

Legenda 10 Kapal Hantu Menyeramkan Di Dunia

Legenda 10 Kapal Hantu Menyeramkan Di Dunia


THE FLYING DUTCHMAN

Menurut cerita dongeng, The Flying Dutchman adalah kapal hantu yang tidak akan pernah bisa berlabuh, tetapi harus mengarungi "tujuh lautan" selamanya. Flying Dutchman selalu terlihat dari jauh, kadang-kadang disinari dengan cahaya hantu.
Banyak versi dari cerita ini. Menurut beberapa, cerita ini berasal dari Belanda, sementara itu yang lain meng-claim bahwa itu berasal dari sandiwara Inggris The Flying Dutchman (1826) oleh Edward Fitzball dan novel "The Phantom Ship" (1837) oleh Frederick Marryat, kemudian di adaptasi ke cerita Belanda "Het Vliegend Schip" (The Flying Ship) oleh pastor Belanda A.H.C. Römer. Versi lainnya termasuk opera oleh Richard Wagner (1841) dan "The Flying Dutchman on Tappan Sea" oleh Washington Irving (1855).
Berdasarkan dari beberapa sumber, Kapten Belanda pada abad ke 17 Bernard Fokke adalah contoh dari kapten kapal hantu tersebut. Fokke mendapatkan kemasyhuran atas perjalan dari Belanda ke Jawa dengan kecepatan yang luar biasa dan dicurigai mempunyai ikatan dengan Iblis untuk meningkatkan kecepatannya. Berdasarkan dari beberapa sumber, kapten tersebut dipanggil dengan Falkenburg didalam cerita versi Belanda. Dia dipanggil dengan "Van der Decken" (artinya off the deck|Diatas Geladak) dalam versi Marryat's dan "Ramhout van Dam" dalam versi Irving's. Sumber tidak setuju bahwa "Flying Dutchman" adalah nama dari kapal atau nama panggilan untuk sang kapten.
Menurut banyak versi, sang kapten berjanji bahwa dia tidak akan mundur pada saat badai, tapi akan melanjutkan usahanya untuk mencari Cape of Good Hope walaupun sampai hari kiamat. Menurut beberapa versi, kejahatan yang mengerikan telah terjadi, atau awak kapalnya telah tertular oleh wabah penyakit pes dan tidak diijinkan untuk berlabuh di seluruh pelabuhan. Sejak itu, kapal dan awaknya dihukum untuk selalu berlayar, tidak pernah kedarat. Menurut beberapa versi, ini terjadi pada tahun 1641, yang lain menebak tahun 1680 atau 1729.

Banyak catatan persamaan dari Flying Dutchman dengan kisah umat Kristen The Wandering Jew.

Terneuzen (Belanda) disebut sebagai rumah sang legenda Flying Dutchman, Van der Decken, seorang kapten yang mengutuk Tuhan dan telah dihukum untuk mengarungi lautan selamanya, telah diceritakan dalam novel karya Frederick Marryat - The Phantom Ship dan Richard Wagner opera.

Beberapa saksi penampakan The Flying Dutchman :

  • 1823 Kapten Oweb dari kapal HMS Leven; dua kali melihat kapal kosong yang terombang ambing di tengah samudera, salah satunya mungkin the Flying Dutchman.
  • 1835 Sebuah kapal Inggris sempat melihat The Flying Dutchman yang melaju kencang ke arahnya tapi setelah dekat menghilang begitu saja.
  • 1879 Beberapa awak kapal SS Petrogia sempat melihat kapal hantu tersebut.
  • 1881 3 awak kapal HMS Baccante yang di dalamnya terdapat King George V melihatnya. Keesokan harinya seornag awak yang sempat melihat tiba2 mati secara mendadak.
  • 1939 Terlihat di Mulkenzenberg, membuat orang2 yang melihatnya bingung karena tiba2 saja kapal tua itu menghilang begitu saja.
  • 1941 Terdapat laporan dari Pantai Glenclaim tentang sebuah kapal tua yang menabrak karang. Setelah diselidiki tak ada sedikitpun bangkai kapal di sekitarnya.
  • 1942 Terlihat oleh kapal MHS Jubille di dekat Cape Town, Afrika selatan
OURANG MEDAN
 
Cerita tentang Kapal Medan Ourang dimulai pada tahun 1947, berawal ketika dua kapal Amerika menerima panggilan darurat saat menavigasi Selat Malaka, lepas pantai Malaysia. Si penelepon memperkenalkan diri sebagai anggota awak Kapal Ourang Medan, sebuah kapal Belanda, dan seharusnya menyatakan bahwa kapten kapal dan awak semua mati atau sekarat. Pesan yang di ucapkannya menjadi campur aduk dan aneh sebelum suaranya melemah dan berakhir dengan kata-kata: “aku mati.” Setelah mendengar pesan itu, semua Kapal-kapal lekas meluncur ke tempat kejadian untuk membantu.
Dan ketika mereka tiba, mereka menemukan bahwa Ourang Medan tidak mengalami kerusakan, namun seluruh awak kapal, bahkan anjing-sudah mati, tubuh dan wajah mereka terkunci dalam pose dan ekspresi ketakutan, dan banyak menunjuk pada sesuatu yang tidak ada di sana.
Sebelum para penyelamat dapat menyelidiki lebih lanjut, kapal misterius terbakar, dan mereka harus mengungsi. Segera setelah itu, Medan Ourang dikatakan telah meledak dan kemudian tenggelam.
Sementara rincian dan keseluruhan kebenaran dari kisah Medan Ourang masih banyak diperdebatkan, ada beberapa teori yang diusulkan mengenai apa yang mungkin telah menyebabkan kematian para awak kapal. Yang paling populer adalah bahwa kapal itu secara ilegal mengangkut nitrogliserin atau semacam obat yang memiliki efek luar biasa untuk melebarkan pembuluh darah atau saraf, dan tidak terlalu aman bila merembes keluar ke udara. Teori lain yang berhembus mengatakan bahwa kapal Ourang Medan menjadi korban serangan UFO atau beberapa jenis kegiatan mistis di laut yang menelan kapal itu.

CALEUCHE

Salah satu yang paling terkenal legenda dari mitologi Chilota Chili selatan menggambarkan Caleuche, sebuah kapal hantu yang muncul setiap malam di dekat pulau Chiloe.
Menurut legenda setempat, mereka melihat dengan nyata bahwa ada sebuah kapal mempunyai semacam layar melintas di perairan sekitar wilayah tersebut, membawa bersamanya Jiwa (arwah) semua orang yang telah tenggelam di laut.
Ketika mereka melihatnya, kapal Caleuche dikatakan bersinar indah dan cerah, dan selalu disertai oleh berbagai suara musik dan orang-orang tertawa. Namun setelah muncul selama beberapa saat, kapal itu kemudian menghilang atau menenggelamkan diri di bawah air. Menurut mitologi Chilota , roh-roh yang tenggelam dipanggil ke kapal oleh Sirena Chilota, Pincoya, dan Picoy, tiga Chilota “roh air” yang mirip dengan putri duyung. Setelah kapal-kapal hantu, yang tenggelam dikatakan untuk dapat melanjutkan kehidupan mereka seperti sebelum mereka mati. 

SS VALENCIA

SS VALENCIA adalah kapal yang tenggelam di lepas pantai Vancouver, British Columbia pada tahun 1906. Kapal itu mengalami cuaca buruk di dekat Cape Mendocino, dan menabrak beberapa batu karang yang besar, dan kapal tersebut mulai tenggelam.
Awak kapal segera mulai menurunkan sekoci bersama 108 penumpang kapal ke dalam air, tetapi beberapa sekoci terbalik dan hanya beberapa saja yang dapat Mereka gunakan., beberapa menit kemudian SS VALENCIA tenggelam , di media valencia di sebutkan bahwa 37 orang selamat dari 108 penumpang yang ada.
Lima bulan kemudian, seorang nelayan  telah menemukan sebuah sekoci dengan 8 kerangka manusia di dekat gua.
Pencarian diluncurkan, tapi tidak menemukan apa pun. Karna tidak menemukan sebuah fakta mengenai Kerangka tersebut SS Valencia akhirnya menjadi sumber berbagai kisah kapal hantu. Akhir Akhir penemuan itu, Banyak nelayan yang melihat kapal hantu di Pachena Point, dan sampai hari ini kapal Tersebut belum bisa di pastikan keberadaanya.
27 tahun setelah tenggelamnya SS Valencia, salah satu SEKOCI itu ditemukan mengambang dengan tenang di dekat Barkley Sound. Sekoci Tersebut, masih terlihat bagus – dan cat lapisannya masih terang...
Sampai Kapanpun Misteri SS VALENCIA Akan di kenang oleh penganut Konspirasi Dengan Nama X FILE..

CARROLL A. DEERING

Mungkin yang paling terkenal hantu kapal dari pesisir Timur adalah Carroll A. Deering, sebuah sekunar yang kandas di dekat Tanjung Hatteras, North Carolina pada tahun 1921.
The Carroll A. Deering dibangun di Bath, Maine, pada tahun 1919 oleh Perusahaan GG Deering untuk penggunaan komersial.. Kapal ini dirancang untuk membawa kargo dan telah bekerja selama satu tahun ketika mulai perjalanan akhir yang misterius.
Kapal ini baru saja kembali dari perjalanan komersial untuk memberikan batubara di Amerika Selatan, dan itu terakhir kali terlihat di selatan Hatteras oleh sebuah kapal suar di dekat Cape Lookout. Itu kandas di Diamond terkenal Shoals, sebuah wilayah yang terkenal akan menyebabkan bangkai kapal, dan duduk di sana selama beberapa hari sebelum bantuan apa pun bisa mencapainya. Ketika mereka tiba, Coast Guard menemukan bahwa kapal itu sepenuhnya ditinggalkan. Peralatan navigasi dan buku catatan hilang, seperti juga dua sekoci, tapi selain itu tidak ada tanda-tanda apapun kecurangan. Sebuah penyelidikan besar-besaran oleh pemerintah AS diikuti, yang menemukan bahwa beberapa kapal lainnya telah menghilang secara misterius sekitar waktu yang sama. Beberapa teori diajukan akhirnya, yang paling populer adalah bahwa kapal menjadi korban bajak laut atau rumrunners. Yang lain menyarankan bahwa mungkin pemberontakan menjadi penyebab, sebagai pasangan pertama Deering dikenal untuk menanggung sebagian permusuhan terhadap para Kapten, tapi tidak ada bukti bahkan telah ditemukan. Misteri kapal hantu yang mengelilingi telah mendorong spekulasi liar, dan banyak yang berpendapat bahwa kegiatan paranormal mungkin telah bertanggung jawab, yang mengutip bagian kapal melalui segitiga bermuda yang terkenal sebagai bukti bahwa semacam fenomena dunia lain mungkin untuk disalahkan. 

THE BAYCHIMO

Salah satu kasus yang paling menakjubkan dari kehidupan nyata mengenai hantu kapal Baychimo, sebuah kapal kargo yang ditinggalkan dan dibiarkan melayang di dekat laut Alaska selama hampir empat puluh tahun. Kapal ini dimiliki oleh Perusahaan Teluk Hudson, dan diluncurkan pada awal 1920-an dan digunakan untuk perdagangan pelts dan bulu dengan Inuit di utara Kanada.
Tapi di tahun 1931, Baychimo menjadi terperangkap dalam kemasan es dekat Alaska, dan setelah banyak usaha yang dilakukan, para kru akhirnya diterbangkan keluar dari daerah ke tempat yang aman.
Setelah badai salju yang berat, kapal berhasil melepaskan diri dari es, tapi kapal itu rusak parah dan ditinggalkan oleh Perusahaan Teluk Hudson, yang beranggapan itu tidak akan bertahan di musim dingin. Herannya, Baychimo berhasil tetap bertahan, dan selama 38 tahun, itu tetap terapung di perairan Alaska. Kapal menjadi semacam legenda setempat, dan sering terlihat mengambang tanpa tujuan di dekat paket es yang membeku oleh Eskimo dan kapal lain. Saat itu naik beberapa kali, tapi kondisi cuaca selalu membuat menyelamatkan hampir mustahil. The Baychimo ini terakhir terlihat pada tahun 1969, sekali lagi membeku di dalam es dari Alaska, tetapi sejak itu menghilang. Kapal diyakini telah tenggelam bertahun-tahun, namun baru-baru ini beberapa ekspedisi telah diluncurkan dalam pencarian kapal hantu yang sekarang terhitung telah hilang hampir 80 tahun lamanya itu.

LADY LOVIBOND

Inggris memiliki tradisi panjang legenda tentang hantu kapal, dan Lady Lovibond ini mungkin yang paling terkenal. Sebagai jalan ceritanya, Lady Lovibond kapten, Simon Peel, baru saja menikah, dan memutuskan untuk merayakannya di atas sebuah kapal pesiar.
Dia membawa pengantin barunya., sepanjang-akan berlangsung lama pelayaran terhadap keyakinan bahwa membawa seorang wanita di papan perahu adalah nasib buruk-dan berlayar pada 13 Februari 1748. Sayangnya untuk Peel, mate pertamanya juga jatuh cinta dengan istri barunya, dan setelah menonton perayaan, orang menjadi marah dan kewalahan dengan kecemburuan dan sengaja mengarahkan perahu ke Goodwind Sands mematikan, sebuah bar pasir yang terkenal karena sering menyebabkan kecelakaan kapal. Lady Lovibond tenggelam, menewaskan semua penumpang.
Sebagai legenda berjalan, sejak kecelakaan itu Lady Lovibond dapat dilihat berlayar di perairan sekitar Kent setiap 50 tahun. Hal ini terlihat pada tahun 1798 oleh beberapa kapten kapal yang berbeda, serta pada tahun 1848 dan 1898, ketika itu seharusnya tampak begitu nyata bahwa beberapa kapal, berpikir itu sebuah kapal dalam kesusahan, sebenarnya dikirim rakit untuk membantu itu. Lady Lovibond kembali terlihat pada tahun 1948, dan sementara tidak ada penampakan dikonfirmasi pada tahun terakhir di tahun 1998, dan terus menjadi salah satu yang paling terkenal legenda kapal hantu di Eropa.

THE MARY CELESTE

Tidak diragukan lagi yang paling terkenal dari semua kehidupan nyata hantu kapal, Mary Celeste adalah kapal dagang yang ditemukan gelandangan dan terapung-apung di Samudera Atlantik pada tahun 1872.
Kapal itu dalam kondisi layak laut, dengan segala layar masih terjaga dan toko penuh makanan dalam kargo, tapi hidupnya perahu, kapten buku log dan, yang lebih penting, seluruh kru, menghilang secara misterius. Tidak ada tanda-tanda perjuangan, dan barang-barang pribadi dari kru dan kargo dari lebih dari 1500 barel alkohol tersentuh, tampaknya mengesampingkan kemungkinan pembajakan sebagai penjelasan. Pada tahun-tahun sejak penemuan aneh, sejumlah teori telah diusulkan mengenai kemungkinan nasib kru Mary Celeste. Ini termasuk bahwa mereka penumpang tewas akibat puting beliung, bahwa awak memberontak, atau bahkan makan tepung yang terkontaminasi dengan jamur membawa semua penumpang untuk berhalusinasi dan menjadi gila. Teori yang paling mungkin tetap bahwa badai atau beberapa jenis masalah teknis memimpin sebelum waktunya meninggalkan kru untuk kapal dalam sekoci, dan bahwa mereka kemudian meninggal di laut. Namun, misteri yang mengelilingi Mary Celeste telah menimbulkan banyak spekulasi liar, dan lain-lain telah mengusulkan segalanya dari hantu ke laut monster dan mungkin penjelasan mengenai penculikan orang asing.

THE JOYITA

The Joyita adalah merupakan perahu sewaan seorang nelayan yang ditemukan ditinggalkan di Pasifik Selatan pada tahun 1955. Kapal, bersama dengan 25 penumpang dan awak, sedang dalam perjalanan ke Kepulauan Tokelau ketika sesuatu terjadi, dan tidak sampai beberapa jam kemudian bahwa Joyita terlambat dilaporkan dan upaya penyelamatan diluncurkan.
Sebuah pencarian udara besar-besaran dilakukan, tapi gagal menemukan kapal yang hilang, dan tidak sampai lima minggu kemudian bahwa kapal dagang tersandung atas Joyita hanyut sekitar 600 mil dari aslinya saja. Tidak ada tanda-tanda dari penumpang, kru, kargo, atau kehidupan rakit, dan kapal itu rusak dan daftar cukup parah ke satu sisi. Pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak yang berwenang menemukan bahwa radio kapal disetel untuk tanda bahaya universal, dan pencarian dari geladak menemukan tas dokter dan beberapa perban berdarah. Tak satu pun dari awak atau penumpang yang pernah terlihat lagi, dan misteri dari apa yang terjadi belum pernah terungkap. Teori yang paling populer adalah bahwa seluruh penumpang dibunuh oleh bajak laut dan melemparkan tubuh mereka ke laut, tapi klaim lain menyatakan bahwa ini termasuk segala sesuatu dari pemberontakan dan penculikan penipuan asuransi.

THE OCTAVIUS

Dongeng tentang kapal The Octavius merupakan salah satu dari banyak kisah kapal hantu terkenal di dunia. Cerita ini berawal dari sebuah Kapal penangkap ikan paus bernama Herald tahun 1775 di laut Arktik yang secara tidak sengaja menemukan sebuah kapal besar terapung-apung di lautan.
Ketika di Dekati baru diketahui kapal tersebut bernama lambung The Octavius, The Octavius sendiri juga merupakan kapal penangkap ikan paus, tak ada tanda-tanda kehidupan di Kapal tersebut hingga seorang kru kapal Herald memberanikan diri untuk menaiki kapal tersebut.
Secara mengejutkan kru tersebut menemukan puluhan mayat kru kapal The Octavius tergeletak membeku, diduga kru-kru tersebut mati kedinginan setelah lama tersesat di laut Arktik dan kehabisan bekal. Yang paling mencengangkan ternyata Kapal The Octavius telah dilaporkan hilang 13 Tahun yang lalu, jadi selama jeda waktu tersebut Kapal tersebut hanya terombang-ambing di lautan, setelah penemuan kapal tersebut hingga kini tersiar kabar banyak kapal-kapal penangkap ikan melihat penampakan The Octavius di Lautan Arktik, namun ketika didekati kapal tersebut mendadak menghilang di dalam kabut.

Description : Legenda 10 Kapal Hantu Menyeramkan di Dunia